Statistik Penduduk
Data Jumlah Penduduk Yang Terupdate
Kelembagaan Desa
Personalia Pemerintah Desa Benteng Tawa I
KPMD
Sejarah Desa
Desa Benteng Tawa I dengan kode wilayahnya: 53.09.14.2018; merupakan
Pemekaran dari Desa Benteng Tawa Kecamatan Riung Barat yang diresmikan oleh
Bupati Ngada Marianus Sae ter-Tanggal 11 Juli 2011, sesuai Perda Ngada Nomor
6 Tahun 2011. Sampai saat ini Desa Benteng Tawa I sejalan dengan
berkembangnya pembangunan di segala sektor, khusus dibidang Pemerintahan
Desa telah menghasilkan 2 (Dua) buah Desa Pemekaran (Benteng Tawa IV dan
Benteng Tawa V) yang dideklarasikan pada Tanggal 26 September 2022.
Sejak desa Benteng Tawa 1 diresmikan, adapun sejarah pemerintah desa yang
menjabat sebagai kepala desa dari tahun ke tahun, sebagaimana dapat dirincikan:
1 FLORIANUS RAE 2008-2010 PEJABAT YANG DITUNJUK
2 ALOYSIUS RAMBU 2011-2016 DIPILIH OLEH MASYARAKAT
3 YOSEPH PANAS, S.FIL 2017-SEKARANG DIPILIH OLEH MASYARAKAT
Kondisi Geografis
Desa Benteng Tawa I adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Riung
Barat yang berada diwilayah pedesaan dengan ketinggian 550-1.200 M diatas
permukaan laut dengan curah hujan 23-250 C. Luas wilayah Desa Benteng Tawa I
adalah dari 41,65 km2 menjadi 10,85 km2. dengan batas-batas wilayah desa
sebagai berikut :
Utara, dengan Desa Benteng Tawa V, Kecamatan Riung Barat dengan titik batasnya Rompa Mbeko’ – Eper Munta – Sangkot Gi – Aur Kalok.
Selatan, dengan Sangan Blang Obak – Kupe – Aur Kalok.
Timur, dengan Aur Kalok- Sangkot Gi.
Barat, dengan dengan Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan, Manggarai
Timur dengan titik batasnya : Sepanjang Alo Meze.
Desa Benteng Tawa I termasuk desa yang terisolir dari ibukota kecamatan
Riung Barat, karena itu untuk mencapai pusat kecamatan Riung Barat di
Maronggela harus melewati 4 (empat) kecamatan yaitu: Bajawa Utara, Soa,
Wolomeze, Riung dan memakan waktu 4-5 jam dengan kendaraan beroda.
Sebenarnya untuk mencapai pusat kecamatan Riung Barat di Maronggela hanya
dengan 40-50 menit perjalanan lewat jalan lingkungan Mbazang – Nampe yang
telah dibuka oleh masyarakat sejak tahun 1981 dan sudah dapat dilalui kendaraan
beroda. Namun hingga kini lanjutan pembangunan jalan pada segmen ini belum dilakukan lagi karena berbagai persoalan antara lain karena wilayah ini masuk
dalam kawasan hutan lindung.
Sebagian besar dari wilayah Desa Benteng Tawa I telah digunakan untuk
pemukiman penduduk, perkebunan, persawahan tadah hujan dan sebagiannya
adalah hutan rakyat. Topografinya berdataran tinggi, letak permukimanpun di
sekitar lereng gunung dan hanya sedikit hamparan yang dimanfaatkan oleh
penduduk sebagai lahan persawahan. Desa Benteng Tawa I memiliki tanah yang
cukup subur dan beriklim sedang serta memiliki curah hujan yang cukup tinggi.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa tahun terakhir ini yang mana durasi musim
hujan seimbang dengan musim kemarau.
Kondisi Perekonomian
Dari Aspek Ekonomi warga Desa Benteng Tawa I tidak tergolong desa miskin
karena keadaan ekonominya; baik hasil pertanian (padi) maupun hasil perkebunan
(kopi) dan hasil hutan (kemiri) cukup baik dan dapat memenuhi kebutuhan
hidup.Tapi mengapa masih terjadi kemiskinan?
Jawaban untuk pertanyaan di atas sekurang-kurangnya menggugah para
penentu kebijakan di tingkat desa maupun di tingkat lebih atas untuk dapat
melihatnya secara mata hati beberapa hal yang setidak-tidaknya merupakan
keprihatinan para petani di Desa Benteng Tawa I antara lain: Topografi tanah yang
lebih banyak perbukitan, iklim yang tidak menentu, serta musim hujan yang
pendek dengan curah hujan yang tidak teratur merupakan lingkungan pertanian di
Desa Benteng Tawa I.
❖ Sistem ekonomi pertanian yang sekarang ini berlaku tidak menguntungkan
para petani. Hal ini disebabkan karena bukan petani yang menentukan harga
pokok pertanian.
❖ Naiknya harga beras tidak secara otomatis menaikkan pendapatan riil para
petani yang cenderung secara tidak langsung berhubungan dengan pasar dan
konsumen.
Pedaganglah yang lebih berpeluang memainkan selisih harga beli dan harga
jual. Sistem ekonomi macam begini jelas merugikan para petani. Para petani
bekerja keras untuk memperkaya para pedagang. Jadi, selama sistem ekonomi
pertanian yang berlaku kini tetap bertahan, nasib para petani tidak berubah dan
tidak mungkin para petani bisa beralih. Sehinggga petani miskin karena struktur
perekonomian yang ada menghendaki para petani tetap miskin, Data dukung yang
mempengaruhinya adalah :
a. Pertanian
– Irigasi ½ teknis : 1 buah
– Irigasi pedesaan : tidak ada
– Lahan basah/sawah : ± dari 46 menjadi 10 Hektar
– Lahan Kering : ± 45 Hektar
b. Peternakan
▪ Sapi 12 ekor
▪ Kerbau 3 ekor
▪ Babi 20 ekor
▪ Ayam Kampung 150 ekor
▪ Kuda 10 ekor
▪ Kambing 35 ekor
▪ Anjing 55 ekor
▪ Kucing 17 ekor
c. Perkebunan
• Kopi : 1,2 Hektar/ 677 Pohon
• Kemiri : 2 Hektar/ 375 Pohon
• Coklat : 2 Hektar/ 1000 Pohon
d. Koperasi
Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP), Kelompok Usaha Ekonomi
Produktif (UEP) dan Kelompok Arisan.
e. Gapoktan dan Kelompok Tani
Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Desa Benteng Tawa I terdiri dari 3
(Tiga) kelompok tani dengan jumlah anggota sebanyak 75 (Tujuh Puluh Lima)
orang. Gapoktan ini berdiri pada Tahun 2013 yang diketuai oleh Marianus
Sambung beralamat Ruping Mok- Desa Benteng Tawa I.
Keadaan Penduduk
Masih cukup banyak para janda/duda, cacat permanen, jompo dan lanjut
usia yang belum terakomodir, serta pemberdayaan kaum perempuan yang masih
jauh dari harapan.
Di samping itu pula belum ada pelayanan rehabilitasi bagi warga Rio Minsi
yang terkena dampak langsung konflik sosial akibat belum adanya penyelesaian
tapal batas antara Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai Timur di segmen
Rio Minsi yang sudah hampir 40 tahun tetap mencekam warga Rio Minsi yang
merupakan bagian tak terpisahkan dari Desa Benteng Tawa I, Kecamatan Riung
Barat, Kabupaten Ngada.
Dari keadaan tersebut di atas dapat digambarkan sebagai
berikut:
❖ Janda/Duda = 9 Orang
❖ Cacat: Cacat permanen = 3 orang; Cacat produktif = 2 orang
❖ Anak terantar = Tidak ada
❖ Kepala keluarga jompo/lanjut usia = 11 KK
❖ Kepala keluarga belum punya rumah (masih tinggal bergabung) = 6 KK
❖ Kepala keluarga rumah tak layak huni = 25 KK
❖ Kepala keluarga tidak punya lahan sawah = 11 KK
❖ Belum punya WC sehat = 8 KK
❖ Air bersih: hampir 85 % warga masyarakat Benteng Tawa I mengkonsumsi air
kali/sungai.
Pendidikan
Di desa Benteng Tawa I terdapat lembaga pendidikan tingkat SD sebagai
berikut:
• SDK Ruping Mok dengan jumlah 45 siswa
Penduduk dewasa (17 tahun ke atas) rata-rata pernah mengenyam
pendidikan baik SR maupun SD, sementara yang pernah mengenyam
pendidikan sampai Perguruan Tinggi hampir sangat terbatas jumlahnya.
Akibatnya masyarakat dengan tingkat pendidikan yang masih didominasi oleh
tamatan SD hal ini tentu amat sangat mempengaruhi tingkat partisipasi dalam
pelaksanaan pembangunan baik yang dicanangkan oleh pemerintah maupun
lembaga sosial lainnya.
Sedangkan anak-anak usia sekolah (pendidikan dasar-menengah), rata-rata
masih melanjutkan pendidikannya, adapun yang tidak melanjutkan sekolah
dikarenakan tidak adanya kemauan untuk belajar dari anak itu sendiri. Dan
satu hal yang cukup membanggakan adalah masyarakat desa saat ini sudah
sadar akan pentingnya pendidikan, ini dibuktikan dengan banyaknya kaderkader muda desa Benteng Tawa I yang tengah mengenyam pendidikan di
bangku kuliah, serta dorongan moril maupun materi yang disumbangkan oleh
masyarakat dalam bentuk arisan peduli pendidikan dan berbagai bentuk
lainnya.
Kesehatan dan Perumahan
Desa Benteng Tawa I memiliki sebuah sarana kesehatan yang berstatus
Pusat Kesehatan Desa (POSKESDES) yang terletak di pusat desa (Mok – Dusun
Ruping Mok). Perlengkapan sarana masih sangat dibutuhkan, terutama ruang
bersalin yang hingga saat ini belum memenuhi persyaratan. Sarana pelengkap
lainnya pun masih sangat minim sehingga banyak pasien yang harus dirujuk
ke Pustu Lindi yang sekarang sudah berstatus Puskesmas Lindi di Desa
Benteng Tawa/ RSU Bajawa.
Selain Poskesdes, di tiga wilayah anak kampung yaitu Ruping Mok,
Mbazang dan Rio Minsi masing-masing mempunyai Gedung Posyandu yang
digunakan untuk melayani penimbangan bayi balita dan pemeriksaan ibu
hamil secara rutin setiap bulan. Namun, sarana prasarananya belum memadai
Masyarakat desa Benteng Tawa I kurang memperhatikan kesehatan baik
kesehatan lingkungan maupun kesehatan keluarga. Banyak masyarakat
menderita penyakit malaria, disentri, penyakit hepatitis dan gatal-gatal. Hal ini
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
• Air bersih
Kondisi air minum bersih di desa Benteng Tawa I masih memprihatinkan
dikarenakan oleh kurangnya sarana perpipaan untuk perluasan jaringan.
Saat ini, ada masyarakat yang sudah menikmati air minum bersih, namun
ada juga yang belum menikmatinya karena jarak ke sumber air bersih
cukup jauh.
• WC dan Perumahan
Kondisi perumahan masyarakat pada umumnya belum memenuhi syarat
rumah sehat karena ventilasi yang kurang baik, lantai tanah dan berdebu,
lantai semen yang pecah-pecah dan atap yang mulai bocor. Banyak
keluarga muda yang belum memiliki rumah, salah satu alasannya adalah
rumitnya administrasi dan berbelit-belitnya prosedur pengambilan hasil
hutan (kayu) sebagai bahan dasar bangunan/perumahan.
c. Gizi
Kehidupan gizi anak dan keluarga sudah membaik, hal ini terjadi karena
masyarakat sudah semakin sadar akan pentingnya hidup sehat serta atas
dukungan dan motifasi dari paramedis dan para kader kesehatan yang
tersebar di tiga wilayah anak kampung. Sampai dengan keadaan sekarang
kondisi anak (Balita) dengan kondisi gizi baik 64 (Enam Puluh Empat)
orang dan yang mengalami gizi kurang 4 (Empat) orang.
Penerangan
• Penerangan
Data kepemilikan Penerangan: (lihat pada tabel disamping).
Selamat Datang di Desa Benteng Tawa 1
Pesona Alam di Tapal Perbatasan
Warisan Budaya Yang Tak Terlupakan

